Curhat Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J: Apakah Saya Besok Masih Hidup?

Ferdy Yosua
Ferdy Sambo bersama ajudannya almarhum Brigadir J. (dok)

Jambi Seru – Di tengah jalannya proses sidang kasus pembunuhan Brigadir Novriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, curhat kuasa hukum keluarga Brigadir J menjadi sorotan publik. Martin Lukas Simanjuntak, kuasa hukum keluarga Brigadir J mengaku sempat takut saat pertama kali menerima kasus ini.

Dikatakannya, memang setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk ketika menerima kasus pembunuhan ajudan Kadiv Propam, Irjen Ferdy Sambo. Dirinya sempat merasa cemas.

Ketakutan juga sempat menghantuinya, lantaran lawan kliennya adalah seorang jenderal polisi. Namun ia tetap menerimanya, setelah mempertimbangkannya matang-matang.

Bacaan Lainnya

“Ketika saya menerima kasus ini, saya juga dalam pergumulan, bukannya kita seperti manusia super yang nggak ada takutnya. Tetap saya pertimbangkan matang-matang,” ujarnya, seperti dikutip dari laman suara.com (media partner jambiseru.com) dari artikel yang berjudul ‘Apakah Saya Besok Masih Bisa Bernapas?’, Ungkapan Hati Pengacara Brigadir J Hadapi Kasus Sambo, pada Senin (14/11/2022).

Benar saja, serangan yang diterima oleh Martin dan tim kuasa hukum lainnya sangat beragam. Bahkan saking banyaknya ancaman yang dihadapi, Martin tak menepis kemungkinan dirinya tidak selamat keesokan harinya.

“Sampai dengan kami diserang, katanya kami mau dilaporkan, katanya kami tukang asumsi, kami penyebar berita hoaks, padahal bisa kami buktikan sebaliknya,” tutur Martin.

“Kita nggak tahu lho, apakah saya masih bisa bernapas besok, apakah minggu depan saya masih bisa hidup, saya nggak tahu, karena yang saya tahu musuh kami ini, karena kami melakukan sesuatu yang benar, akhirnya mungkin memantik emosi dari orang-orang yang tak suka temannya atau lingkungannya diusik,” imbuhnya.

Apalagi karena ia dan tim kuasa hukum yang lain justru menerima banyak penghargaan selama menangani kasus Brigadir J. Misalnya Kamaruddin Simanjuntak yang mendapatkan Nawa Cita Awards di bidang penegakan hukum.

“Ada testimoni juga dari salah satu Menkumham dari partai tertentu, bahwa yang kami lakukan itu sangat dirindukan masyarakat Indonesia. Dua hal ini sangat penting untuk menyemangati kami, kok bisa kami (malah) dikira menyebarkan hoaks,” kata Martin.

Tingginya ancaman karena melawan mantan jenderal polisi nyatanya tidak membuat Martin dan tim kuasa hukum lainnya goyah. Martin bahkan menekankan hanya ada 2 hal yang bisa membuat mereka mundur dari kasus ini.

“Yang pertama, surat kuasa kami dicabut oleh klien, atau penyelamat kami Tuhan Yesus Kristus datang untuk kedua kalinya ke dunia ini. Selain itu tidak ada kata mundur,” pungkas Martin menegaskan.(tra)

Pos terkait