Sebanyak 247 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Terjadi di Jambi

  • Whatsapp
Ilustrasi kekerasan. (Ist)
Ilustrasi kekerasan. (Ist)

Sebanyak 247 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Terjadi di Jambi

JAMBISERU.COM – Kepolisian Daerah (Polda) Jambi beserta jajaran, selama 2020, tercatat sebanyak 247 kasus yang ditangani unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Hal ini didominasi oleh orang sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Baca Juga : Di Merangin,Tengah Asyik Nyabu Pemuda 30 Tahun Ini Ditangkap Polisi

Dari 247 kasus tersebut, terdiri dari 61 kasus pencabulan dan 186 kasus perlindungan wanita dan anak-anak.

Kasubdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jambi, Akbp Iwan, menjelaskan, dari 247 kasus unit PPA Polda Jambi beserta jajaranya, banyak ditemui para pelaku merupakan orang sekitar atau di lingkungannya.

“Polda Jambi beserta jajaran, banyak ditemui para pelaku merupakan orang terdekat korban,” ujarnya, Jumat (11/9/2020).

Dari 247 kasus, 186 kasus perlindungan wanita dan anak-anak, terbagi lagi dari persetubuhan, pertelantaran, Kekerasan Terhadap Rumah Tangga (KDRT).

“Untuk pencabulan dan persetubuhan itu berbeda. Pencabulan itu hanya memegang area yang sensitif terhadap korban,” tambahnya.

Pihaknya pun juga bekerja sama bersama psikoligis anak dari Dinas Sosial Provinsi Jambi, untuk membantu psikis korban.

“Kita bersama psikolog membatu untuk memulihkan trauma anak dan perempuan. Hingga benar-benar pulih,” tandasnya.

Sementara itu, Sakti Peksos Dinas Sosial Provinsi Jambi, Tuti, mengatakan, untuk korban kekerasan seksual terhadap anak, Dinas Sosial akan melakukan rehabilitas. Rehabiltas pun berbagai macam tipenya. biasanya kita akan melihat korban terlebih dahulu. Apakah korban mengalami trauma berat atau trauma ringan.

“Karenakan kasusnya kan berbagai macam ada yang di perkosa, yang di lecehkan dan ada juga penganiyaan. Untuk itu kita akan melakukan pendalaman agama, terapi psikologinya dan merehab psiko sosialnya,” katanya.

Tuti menambahkan, untuk tahapan rehabilitas biasanya beragam, Kalo korban hamil biasaya kita akan merehab sampai dia melahirkan dan merasa sudah pulih. Dalam masa pemulihan pun, menurut Dinas Sosial ada dua kriteria, yaitu pulih terhadap korban dan pulih terhadap lingkungan sosial.

“Untuk proses rehab yang tidak hamil maksimal 6 bulan. Bagi yang hamil kita akan merehabnya sampai korban melahirkan, lalu menayakan kepada si korban dan keluarganya, apakah mereka mau anaknya atau tidak. Kalau tidak kita Dinas Sosial akan mencarikan orang tua baru untuk di apdopsi,” tambahnya.

Tuti mengaku, Dinas Sosial sering mendapat laporan dari keluarga korban kekerasan seksual terhadap anak, lalu pihaknya akan mengintervensi kasus tersebut.

Baca Juga : Pangdam II/Sriwijaya Kagumi Sungkai Merangin

“Ada juga dari pihak Kepolisian menelpon kita, untuk mendampingi anak korban dan anak saksi, karena itu sudah perintah dari UU, dan wajib didampingi Dinas Sosial,” tuturnya. (Yog)

Pos terkait