Kesan Nonton Drama Korea Somebody: Ketika Kesepian, Hasrat, dan Teknologi Bertabrakan

Kesan Nonton Drama Korea Somebody: Ketika Kesepian, Hasrat, dan Teknologi Bertabrakan
Kesan Nonton Drama Korea Somebody: Ketika Kesepian, Hasrat, dan Teknologi Bertabrakan.Foto: Jambiseru.com

FILM, Jambiseru.com – Ada drama Korea yang menampar kita dengan emosi hangat. Ada juga yang bikin deg-degan karena aksi dan misteri.

Dan ada Somebody…
yang membuat kita tidak nyaman, dingin, sekaligus terpaku.

Bukan karena ceritanya penuh kejutan bombastis, tapi karena drama ini terlalu dekat dengan realitas modern: kesepian, relasi digital, dan hasrat manusia yang tak selalu sehat.

Saya menonton Somebody bukan dengan perasaan “terhibur”, tapi dengan perasaan terusik. Dan justru di situlah kekuatannya.

Somebody Bukan Drakor Biasa

Kalau berharap drama Korea romantis manis, Somebody jelas bukan tempatnya.
Drama ini gelap sejak awal. Sunyi. Minim musik. Dialog seperlunya.

Ceritanya berpusat pada Kim Sum, seorang developer jenius dengan gangguan komunikasi sosial, pencipta aplikasi kencan bernama Somebody.

Aplikasi ini dirancang untuk menghubungkan manusia…

ironisnya, justru menjadi pintu bagi hubungan yang berbahaya.

Seiring cerita berjalan, kita diperkenalkan dengan karakter pria misterius yang karismatik, tenang, dan memikat — namun menyimpan sisi kelam yang pelan-pelan mengerikan.

Tidak ada teriakan berlebihan.
Tidak ada adegan kejar-kejaran klise.
Yang ada hanya ketegangan psikologis yang terus menekan, episode demi episode.

Nuansa Dingin yang Sengaja Dibuat Tidak Nyaman

Salah satu hal paling kuat dari Somebody adalah atmosfernya.
Visualnya dingin. Warna-warna pucat. Ruang-ruang kosong. Cahaya minim.

Semua itu terasa disengaja untuk menggambarkan dunia batin para karakternya:
manusia yang hidup di tengah teknologi canggih, tapi kehilangan kehangatan emosional.

Sebagai penonton, kita seperti dipaksa masuk ke kepala mereka.

Dan jujur saja… rasanya tidak menyenangkan.
Tapi justru itu poinnya.

Relasi Toksik yang Ditampilkan Tanpa Sensor Emosi

Somebody berani menampilkan relasi dewasa dengan cara yang mentah.
Bukan romantisasi cinta, tapi ketergantungan emosional, manipulasi, dan obsesi.
Drama ini tidak menggurui.

Tidak memberi label “ini salah” atau “ini benar” secara eksplisit.

Ia hanya memperlihatkan:
bagaimana kesepian bisa membuat seseorang lengah,
bagaimana perhatian kecil bisa terasa seperti cinta, dan bagaimana teknologi bisa mempercepat kehancuran jika digunakan oleh orang yang salah.

Sebagai penonton, kita dibiarkan menilai sendiri… sambil terus merasa waswas.
Akting yang Tenang tapi Menghantui
Akting para pemeran di Somebody patut diacungi jempol.

Tidak ada ledakan emosi berlebihan, tapi justru ekspresi datar itulah yang menyeramkan.

Kim Sum digambarkan dengan sangat manusiawi — cerdas, rapuh, jujur pada perasaannya, tapi tidak sepenuhnya memahami dunia sosial.

Sementara karakter pria misterius tampil nyaris sempurna di permukaan, namun terasa “kosong” di dalam.

Tatapan mata.
Nada bicara.
Gerak tubuh kecil.

Semua detail itu bekerja pelan-pelan, membuat kita sadar bahwa bahaya tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan.

Somebody dan Kritik Halus terhadap Dunia Digital

Di balik ceritanya, Somebody sebenarnya menyimpan kritik sosial yang kuat.
Tentang bagaimana aplikasi kencan, algoritma, dan kecanduan validasi bisa memperpendek jarak — sekaligus mengaburkan batas aman.

Drama ini seolah bertanya:
Apakah kita benar-benar mengenal orang yang kita temui secara online?
Dan pertanyaan itu terasa relevan, apalagi di era sekarang.

Bukan Drakor untuk Semua Orang

Perlu jujur juga:
Somebody bukan tontonan ringan.
Temponya lambat.
Minim penjelasan.

Banyak adegan sunyi yang menuntut kesabaran.

Bagi penonton yang terbiasa dengan alur cepat dan konflik eksplisit, drama ini bisa terasa membosankan.

Namun bagi yang menyukai thriller psikologis dewasa, Somebody justru terasa berbeda dan berani.

Kesimpulan: Tidak Nyaman, Tapi Berkesan
Setelah selesai menonton Somebody, saya tidak langsung merasa puas.

Yang ada justru perasaan ganjil… sepi… dan berpikir panjang.

Drama ini tidak bertujuan membuat kita senang.
Ia ingin membuat kita merenung.
Tentang kesepian.
Tentang relasi.
Tentang teknologi yang kita gunakan setiap hari.

Dan mungkin, tentang diri kita sendiri.
Jika kamu mencari drama Korea yang aman, manis, dan mudah dicerna — Somebody bukan pilihan itu.

Tapi jika kamu ingin tontonan yang berani, gelap, dan meninggalkan bekas, maka Somebody layak untuk ditonton… dengan mental siap. (gie)

Pos terkait