Opini Musri Nauli : Ikan Semah

  • Whatsapp
perjalanan betuah (18)
Musri Nauli SH

Jambiseru.com – Disaat Gubernur Jambi Al Haris berkunjung ke wilayah lubuk larangan di Desa Pengasi Lama, Kecamatan Bukit Kerman, Kabupaten Kerinci dan masyarakat menyambut dan menyiapkan beberapa ikan Semah, ikan yang menjadi primadona di aliran Sungai Batang Merangin, untuk diberikan kepada Gubernur Jambi, seketika itu juga cerita tentang ikan semah menarik perhatian.

Sebagaimana diketahui, cerita dan tutur ditengah masyarakat, membicarakan ikan semah adalah cerita yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Setiap saya ke Bangko, ritual memakan ikan semah di Pasar Bawah Bangko adalah bagian yang tidak boleh ditinggalkan. Ritual yang mengembalikan energi mengenai peradaban di Bangko.

Ikan semah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Merangin dan Kerinci. Cerita ini juga ditemukan di masyarakat Sungai Ipuh, Selagan Raya, Muko-muko, Bengkulu.

Penanda adanya ikan semah dapat juga diartikan arah mata angin. Sebagaimana cerita di Sungai Ipuh, keberadaan Ikan semah, ikan batok dan ikan gabus menunjukkan arah matahari mati.

Istilah “matahari mati” menunjukkan “matahari terbenam yang kemudian dapat diartikan sebagai Arah barat.

Istilah matahari Hidup juga dikenal sebagai matahari terbit yang kemudian diartikan sebagai Arah timur.

Sehingga “ikan semah” bersama-sama dengan ikan batok dan ikan gabus menunjukkan aliran sungai yang mengarah ke matahari mati.

Sedangkan Arah matahari Hidup ditandai dengan ikan lais, ikan baung dan ikan toman.

Ikan semah sebagai biodiversity khas masyarakat huluan Jambi kemudian ditetapkan sebagai ikan yang sering ditempatkan di lubuk larangan. Sebuah tradisi yang ada dan masih berlangsung hingga kini.

Lubuk sebagai “Daerah sungai terdalam” kemudian ditetapkan dalam waktu tertentu sama sekali tidak dibenarkan untuk memancing. Sehingga kemudian dinamakan sebagai lubuk larangan.

Sehingga panen raya dari lubuk larangan adalah prosesi tradisi yang berlangsung setiap tahun.

Namun penghormatan terhadap ikan semah terhadap Pemimpin adalah bagian dari ritual budaya yang menjadi bagian dari masyarakat Melayu Jambi.

Penetapan lubuk larangan sekaligus juga memastikan ekosistem air yang terawat dengan baik. Sehingga penetapan lubuk larangan adalah cara masyarakat Melayu Jambi didalam merawat identitas. Sekaligus menikmati anugrah sungai yang memberikan ikan semah yang Sehat. Dan dapat dinikmati penduduk. (*)

Direktur Media Publikasi dan Opini Haris-Sani

Pos terkait