Kabar dari Turki: Berobatlah, Istirahatlah, Sehatlah!

0
Hastane
Pelayanan RS di Turki. (Mutia)

Saya tangkap keyakinan dipancaran matanya. Akhirnya saya sepakat kuret. Tepat pukul 9 malam proses itu dilakukan. Perasaan saya campur aduk. Sama sekali tak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kehamilan. Kondisi saya makin payah saat nyeri-nyeri hebat terus menyerang perut bagian bawah. Itulah mengapa dokter memutuskan kuret. Seorang perawat bertugas mengalihkan perhatian saya dengan mengajak ngobrol dan bergurau sementara dibawah sana dokter bekerja dengan peralatan tempurnya.

“Siapa namamu, Sayang?”
“Mutia. Tetapi keluargaku disini memanggil saya dengan sebutan Elmas.”
“Namaku Fatma. Tetapi lebih dikenal dengan sebutan Fatos. Mirip sebuah merek keripik kentang kan…” Dia terkekeh.
Tak sampai 30 menit semua beres. Ajaib. Sakit yang mencengkeram tubuh terasa lenyap. Petugas kembali membawa saya ke ruang rawat inap setelah berkata pada petugas jaga;
“Kami mengembalikan pasien ke bangsal,” yang disambut sahutan “Tamam” oleh petugas jaga.

Malam itu saya bisa tidur dengan lelap setelah hampir tiga malam gelisah diwarnai ketakutan keguguran. Suntikan itu mungkin mengandung penenang. Saya lelap sekali. Pagi hari terbangun bugar dan saya temukan sarapan sepotong roti, sepotong keju, zaitun dan dua jenis pilihan olesan roti berupa madu dan cokelat.

“Anda sudah boleh keluar hari ini.” Proses check out juga tak ribet. Hanya menandatangani sebuah berkas laporan dan menebus resep obat untuk sebulan. Kami hanya membayar 14 TL yakni sekitar 33 ribu saja. Saya berucap Allaahu Akbar. Jika di tanah air entah berapa biaya yang harus dirogoh dengan kualitas ruang rawat inap, ketenangan dan pelayanan kelas wahid itu.

Betapa eloknya sistem pelayanan kesehatan disini. Pasien benar-benar hanya diminta istirahat, berobat dan sembuh. Tanpa perlu memikirkan berapa biaya yang harus ditebus. Dalam banyak kasus, memburuknya kondisi pasien lebih dikarenakan stres memikirkan biaya kesembuhan. Sesuatu yang hal itu tak perlu terjadi karena kesehatan rakyat dijamin penuh oleh negara. Bahkan disini, para janda “digaji” khusus setiap bulannya. Tetangga saya depan rumah, janda yang harus menghidupi 7 orang anak, sama sekali tidak terlihat kesusahan. Setiap bulan menerima jatah bulanan dari pemerintah dibawah naungan departemen sosial. Biaya pendidikan gratis bahkan untuk semua anak-anak. Bukan hanya anak berkebangsaan Turki. Raya, putri saya yang WNI-pun turut merasakan fasilitas pendidikan gratis dan khusus untuk fasilitas kesehatan, pemerintah Turki memberikan jaminan gratis untuknya hingga usia 15 tahun.

BACA JUGA: Kabar dari Turki: Hapalkan NIK, Kelar Urusanmu

Meski mungkin masih jauh, namun sistem ini amat saya rindukan bisa diaplikasikan di Indonesia suatu saat kelak. Dimana setiap warganya hanya perlu mengingat Nomor Induk Kewarganegaraan (NIK) saja. Tanpa perlu membawa KTP langsung. Bukankah Indonesia juga sudah memberlakukan e-KTP? Apa gunanya jika fisik KTP yang selalu diminta. Bukan NIK-nya. Tanpa fisik KTP, segala layanan tidak dipenuhi. Saya merasakan, e-KTP di tanah air hanya ganti cover. Bukan ganti sistem. Fisiknya yang berubah, bukan aplikasi NIK-nya yang ditambah. Dimana NIK disini sudah terintegrasi disegala lini. Petugas hanya cukup mengetikkan NIK untuk menikmati aneka layanan dan kepentingan.

Salam;
Mutia JurnaLis

Loading Facebook Comments ...
MEDIA PARTNER: