Cerpen (Monolog) : Sekolah Dasar Tas Negeri (SDTN)

Ilustrasi Tas
Ilustrasi Tas

Oleh : Monas Junior

Satu siang, aku terbangun dengan deretan benda berbagai warna dan bentuk di dalam lemari khusus sebelah ranjang kita. Lemari kayu hitam berkaca bening itu dengan santainya membuatku jumawa. Dia berdiri pongah sambil memamerkan betapa dia telah menerima cintamu di antara benda lain dalam istana ini. Andai kau tahu, keberadaannya benar-benar memukulku, telak!

Aku bangkit, mengembalikan seluruh kesadaran untuk kemudian dikalahkan lagi setelah kulihat ada sekian banyak benda-benda menyebalkan lain di dalam lemari sombong itu. Ya, aku melihat berbagai bentuk, warna dan jenis tas, yang sama sekali tak satu pun kusukai sebagaimana kau menyukai mereka. Pada waktu itu juga aku memutuskan untuk menjadikan mereka musuh-musuhku.

Bacaan Lainnya

Kebencianku terhadap lemari itu belum seberapa dibanding dengan tas-tas angkuh itu. Ya, mereka sangat menyebalkan. Keberadaannya membuat aku sangat tidak penting lagi.

Mungkin kau tak tahu, ketika kau sedang menari-nari dengan langkah girangmu menapaki hari, dengan tas itu di bahumu, lenganmu, jemarimu, bahkan terkadang di pangkuanmu, ada banyak api cemburu yang membara begitu saja dari hatiku.

Aku iri. Yah, sangat iri. Ketika kau sedang butuh seseorang yang selalu dekat denganmu, yang ada hanya tas-tas sombong itu. Sementara aku, kadang entah di mana, kadang entah pula sedang melakukan apa. Mereka, para tas itu, selalu berhasil mencuri ketidakhadiranku dengan keberadaannya yang pasti.

Kecemburuanku menjadi-jadi ketika kau jadikan mereka kekasih terbaik. Kau elus, kau bimbing, kau peluk, dan kau perlakukan dengan kelembutanmu yang agung. Dan mereka, tak akan pernah jauh darimu. Jika kau harus duduk, mereka akan berada beberapa senti saja dari tubuhmu. Selalu melekat, tak akan terpisah, sungguh kebersamaan yang abadi.

Apapun yang kau simpan di dalam mereka, itu berarti segala sesuatu yang sangat berharga dan sangat kau butuhkan. Kebutuhanmu tak akan terpenuhi tanpa hadirnya tas-tas yang kian hari kian kubenci itu. Dan, segala sesuatu hubungan antara kau dan deretan tas itu membuat aku… sungguh-sungguh cemburu.

Entah berapa kali aku bersitatap tajam dengan mereka -tentunya tanpa tatapan balik-, dan entah berapa kali pula aku ingin membuang mereka ke tong sampah dapur, atau bahkan memukuli mereka dengan keras -tentu pula ini tak akan aku lakukan. Akan dikira orang apa aku ini kalau memukuli tas-tas yang tak bersalah itu-.

Permusuhan kami -di belakangmu- terus berkembang. Bertahun-tahun, setiap kali menggamit tas baru, aku akan dibakar amarah yang sama, cemburu yang sama, dan kebencian yang sama. Tapi, bertahun-tahun pula, aku tak pernah menang melawan mereka, deretan serdadu gagah bernama Tas itu.

Lalu, setelah terjebak dalam pertempuran menahun yang sunyi, akhirnya aku belajar menjadikan mereka sebagai kawan. Ya, seperti orang bijak pernah bilang, jika kau tak sanggup melawan, jadikan saja kawan. Maka selesailah sengketa dengan tanpa jatuh korban.

Awalnya sulit. Sangat teramat sulit.

Ada banyak hal yang membuatku masih berat menjadikan mereka kawan. Mulai dari kedekatannya denganmu yang tak pernah bisa kuganti, sampai kebutuhanmu yang melekat kepada mereka yang tak pernah pula bisa aku tukar dengan apapun. Terlebih lagi, hubunganmu sangat erat, tak terpisahkan, dan ini membuat aku tak bisa menekan rasa cemburuku pada titik nol.

Tapi, sekali lagi, seperti orang bijak pernah bilang, waktu adalah guru terbaik untuk manusia belajar menerima apapun. Setelah membiasakan pembiaran akan kehadiran tas-tas tak terkalahkan itu, akhirnya lambat laun aku berhasil menerima kehadiran mereka. Bahkan, anehnya, ketika kau sudah memanen cintamu pada mereka, cintaku terhadap mereka mulai bertunas.

Tak jarang aku tersenyum sendiri ketika sadar bahwa aku mulai mengenali mereka seperti engkau lebih dulu mengenali mereka. Mulai dari yang termurah (biasanya Rp 50 ribuan), menengah (Rp 300 ribu sampai Rp 1 jutaan), agak tinggi (Rp 1 juta sampai Rp 10 jutaan), sampai yang berharga sangat tidak masuk akal (di atas Rp 10 jutaan, bahkan ada yang seharga dua mobil murah)!.

Seringkali aku tertawa dalam hati ketika kau dengan semangatnya menjelaskan perbedaan mana yang tas murah, mana yang menengah, mana pula yang harganya selangit itu. Mulai dari talinya, pengaitnya, reslitingnya, berat ringannya, kuat tidaknya bagian dalam, sampai ada tidaknya tanda-tanda khusus bawaan mereknya. Seakan-akan, aku adalah murid Sekolah Dasar Tas Negeri (SDTN) yang sedang kau beri pelajaran tambahan.

Tapi, diam-diam, aku mulai belajar lebih banyak. Dan tawaku keluar diam-diam saat tanpa sadar aku mulai mencari tahu di situs pencarian internet tentang siapa sebenarnya Si Burberry, Si Bonia, Si Louis Vuitton (LV), Si Prada, Si Hermes, Si Lana, Si Gucci, Si Chanel. Aku juga berusaha mempelajari seperti apa Si KW3, Si KW2, Si KW1, Si KW Premium dan Si KW Super Premium. Seringkali aku sampai bingung menyelesaikan rumus Si Nama + Si KW(x) = Rp ?. Jika kau beri ulangan, mungkin hanya pada bagian penjumlahan itu yang aku tak bisa jawab, lainnya, oh, tentu saja bisa, sebisa kau menertawakan kemahiran baruku ini.

Tapi jangan tertawa keras dulu sebelum kau tahu apa sebenarnya yang membuat aku berdamai dengan tas-tas idamanmu itu. Dan, apa pula yang menjadikan aku pelajar terbaik di kelas 1 STDN ini.

Baca Juga : Rasa Ini

Pada dasarnya… aku hanya ingin kau tahu, bahwa kehadiranku -yang seringkali tak bisa terpenuhi-, setidak-tidaknya bisa tergantikan dengan hadirnya tas-tas yang kuhadirkan untukmu.

Aku ingin ketika kau membelai tas itu, kau membayangkan sedang membelai wajahku yang lelah usai mencari penghidupan untuk kita -meskipun aku tahu, kelelahanku tak seberapa dibanding kelelahanmu yang tiap hari terjebak dalam tugas-tugas rumah tangga-. Ketika kau memeluknya, kau seakan-akan sedang memeluk tubuhku yang bergetar dengan kerinduan yang memuncak. Dan ketika kau sedang membutuhkan sesuatu, aku memberi sedikit harapan di antara banyak impian yang belum bisa kuberikan untukmu lewatnya. Biarkan aku selalu dekat denganmu, selalu penting buatmu dan selalu bisa kau banggakan melalui perantara tas-tas anggun itu. Inilah alasan kenapa aku, akhirnya menjadikan mereka kawan terbaik dibanding musuh terjahat.

Aku mencintaimu. Dan cinta ini akan selalu mengalir ke jiwamu lewat apapun yang kau cintai. Karena kau cinta yang tepat, maka apapun menjadi mudah dan indah. Maka Bu Guru, sudah layakkah aku naik kelas sekarang?(*)

Jambi Berita Terkini, Indonesia Terbaru, dan entertainment film yang tayang di web Jambiseru.com, juga tayang di medsos Jambi Seru.

Bisa lihat di:

1. Facebook Jambi Seru

2. Instagram Jambi Seru

3. Twitter Jambi Seru

4. Google News Jambi Seru

JANGAN LUPA FOLLOW, LIKE DAN SHARE MEDSOS JAMBISERU.COM

Informasi dan ingin kegiatan Anda diliput, hubungi redaksi Jambi Seru HP/WA : 0852-6759-9009 (Whatsapp Klik di sini )

Pos terkait