Surat Cinta : Terbangun di Antara Sabun dan Tumpukan Semangat

  • Whatsapp

Setiap kali bangun dari kelelapan yang sempurna, aku akan selalu memanggil namamu. Jika kau tak ada, aku akan menghubungi hatimu dengan sungguh-sungguh. Lalu kau akan berkata dengan manja, “kenapa, kehilangan istri, ya?” dengan gurauan sebiasa embun mengguraui dedaunan. Lalu aku akan berpura-pura tidak walau sebenarnya iya. Meski begitu, aku tetap merasa lega, rinduku basah sesudahnya.

Kali lain, ketika mataku masih menyisakan kantuk -yang cukup melelapkan barang satu dua jam lagi-, aku akan mencari-cari tubuhmu yang mungil dan indah itu dari balik kesibukan keseharianmu. Kau akan bermanja-manja dengan penolakan basa-basi itu.

Bacaan Lainnya

“Badanmu bau, mandi dulu sana.”

Lalu kau menjerit pelan ketika sebagian bibirku menyisakan basah di pipimu. Dan kau kembali berlepotan sabun, kain dan tumpukan semangat kebersihan di istana kita.

Di waktu lain, kau akan berlari cepat, menghambur dan menghadiahi tubuhku dengan pelukan kencang saat aku terbangun tepat ketika kau masih berada tak jauh dari sisiku. Giliran pipiku, keningku, mataku dan bibirku yang basah dengan bau cintamu yang mendidih. Setelah itu kau akan berlalu mengejar sabun, kain dan tumpukan semangat seperti hari biasanya.

Kau biasa saja. Terlalu santai untuk memaknai betapa ketidakberadaanmu membuatku gelisah. Tidak utuh. Selalu kurang. Dan, benar-benar membocah.

Lalu kenapa kau tak bertanya soal gelisahku setiap bangun tidur itu? Padahal, jika kau tahu, kau akan melambung dengan cinta bersayap emas ke nirwana termasyhur.

Dan, kenapa pula kau tak tanya soal kehilanganku tiap kali membuka mata usai tidur lelap sisa lelah semalam? Padahal, jika kau tahu, kau tak akan lagi tega meninggalkanku dengan kecewa yang memberatkan hati.

Baiknya kujelaskan saja. Biar terpapar betapa hebatnya cintaku untukmu, gadis mungilku yang cantik.

Ketika aku membuka mata pertama kali usai lelap yang dalam, aku takut, sangat takut akan tiba-tiba kehilanganmu. Lebih takut lagi jika aku harus mencarimu ke berbagai mata angin tanpa kompas yang jelas. Lebih mudah menemukanmu di antara sabun dan tumpukan semangat itu, ketimbang mencarimu di antara berkas-berkas kejayaan Jambi silam yang lusuh akibat kelupaan parah generasi terkini.

Aku tak akan kuat berlari, sebab kakiku adalah hatimu. Aku tak sanggup meraba, sebab tanganku adalah jiwamu. Dan aku tak berdaya untuk berpikir, sebab otakku adalah senyummu. Semuanya, dari helaan pertama sampai hembusan terakhir, itu adalah engkau, wanita yang telah menundukkan hatiku.

Lalu mau apa aku, jika saat terbangun kau tak lagi ada di sisiku? Akan kuapakan hidupku jika tiba-tiba kau berubah menjadi halimun?

Kau adalah bagian terhebat di jiwa dan ragaku. Keberadaanku adalah dengan hadirmu. Aku lengkap dengan engkau di sisiku. Jadi tolong, jangan lagi kau jauh dariku ketika mataku membuka. Jika saja terpaksa, biarkan aku mencari hanya di sekitar sabun, kain dan tumpukan semangat. Dan kalau sempat, basahilah pipiku, keningku, mataku dan bibirku dengan bau cintamu yang mendidih! (*)

Monas Junior,   Jambi – Indonesia 

Pos terkait